Perjalanan Bus Eka Bersama Abu Kelud

Ceritanya kemarin pengen ngelepas penat di Surabaya,tiba estafet dari Jakarta dengan Bejeu sekitar 23.50 di terminal Terboyo.

Cari teh panas campur tolak angin sepertinya enak walaupun udara malam ini terasa sumuk banget.

Tadinya ingin bumelan pantura tapi melihat patas Eka S 7367 US di pintu keluar yang sedang ngetem kok jadi tertarik untuk menaikinya.

Okupansi penumpang malam ini cukup lumayan pas berangkat ada 19 penumpang dari terminal ini,mampir sebentar di Sukun ketambahan ada 4 penumpang.

Lepas Sukun udah dapet BC BBM bahwa kelud mbledos alias erupsi,aku udah berpikir wah perpal Solo iki dan tertunda perjalanan ke Surabaya.

Bahaya juga memang perjalanan diiringi abu kelud tentunya pikirku,belum coba untuk tanya tanya crew nanti aja pikirku saat di terminal Solo.

Jam 3 kurang masuk solo coba ngobrol ama pak sopir yang murah senyum malam ini.

“Lanjut apa perpal Cak” tanyaku.

“Insya Allah Lanjut kok mas ini masih tipis abunya” sambil senyum.

Wah tenang pikirku.

Langsung nyari keripik welut ama arem arem khas terminal Solo daripada kelaperan nungguin makan di RM Duta hehehe bisa demo ini cacing.

Dan benar sekitar 20menitan di shelter akhirnya melanjutkan kembali perjalanan menuju Surabaya ada tambahan penumpang kembali dari sini 3 orang.

Karena mata udah nggak bisa diajak kompromi akhirnya kupejamkan sembari menikmati liukan armada Hino dengan baju Morodadi Prima malam ini.

Terbangun saat diberitahu untuk service makan di RM Duta oleh sang kondektur,kulihat kaca depan udah keliatan sebagian buram pekat oleh debu vulkanik erupsi kelud.

Sempat was was juga akan tertunda perjalanan ini,jujur aja memang sedang janjian dan sebisa mungkin ontime jam 11 tiba di lokasi.

Bakso panas yang kunikmati di RM Duta nggak begitu selera karena memikirkan ini terlebih tadi ada mbak mbak RM yang bilang sama crew “perpal ta” waduhhh celakaaa iki!!

Walaupun menyadari akan sulitnya jalan raya pagi ini,di sisi lain harus tiba di Surabaya siang nanti karena ada janji.

Setelah makan pun sang sopir terus memandang langit dan menengadahkan tangannya ke atas merasakan debu vulkanik yang datang dengan intensitas semakin banyak.

Kulihat semua penumpang sama sama cemas menanti apa bisa dilanjutkan atau nggak perjalanan menuju Bungurasih,semua harap cemas dan berdoa masing masing pasti.

Hampir 1 jam di tempat ini akhirnya sang sopir bilang ayooo budall wahh bener bener plonggggg rasanya denger kalimat itu.

Nggak ada istilah ngeblong lagi dalam kondisi begini,sapuan wiper paling kencang pun menerpa kaca bus untuk melihat jarak pandang ke depan.

Melewati Karangjati semakin tebal debu vulkanik Kelud dan sepi sekali seperti kota mati pagi ini.

Semua pasti pada berdiam diri di rumah,pasar pun sepi pagi ini hanya debu vulkanik terlihat di sudut jalanan.

Bertemu ATB Sumber 03 Semarangan pas di Karangjati yang tetap melanjutkan perjalanan ke Bungurasih,pekat kaca depannya oleh abu Kelud.

Dengan sudut pandang yg terbatas semoga kami semua tiba dengan selamat di Bungurasih nantinya.

Pandangan pekat abu vulkanik terjadi hingga daerah Jombang,masuk Mojokerto sedikit berkurang mungkin arah angin yang mempengaruhi perjalanan abu tersebut.

Sedikit tenang karena jarak pandang cukup lumayan,walaupun masih tetap wiper bus bekerja dengan kekuatan maksimal sejak RM Duta tadi pagi.

Masuk mengisi BBM di SPBU Eka sebentar sembari memandangi bus yang telah menerobos debu vulkanik sejak dinihari hingga siang ini.

Sepanjang perjalanan menuju Bungurasih pun masih terlihat abu Kelud turun dengan cantiknya.

Nggak terasa udah Medaeng dan bersiap turun di Dea,kuucapkan banyak terima kasih pada crew yang telah mengantarkanku dengan selamat.

Kujabat tangan pak sopir dan kondekturnya sebelum turun,suatu perjalanan bus Eka tak terlupakan bersama abu Kelud!!

Ekaaaaa suossss!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *